Rabu, 18 November 2015

PROFIL GURU KU

PROFIL GURU KU

KH. Al-Bazzi Nawawi,  Trowulan

Saya sangat begitu terkesan dengan profil salah satu guru saya ini, KH. Al-Bazzi Nawawi namanya. Sebagian besar masyayikh di kota Mojokerto menggelarinya sebagai " Sufi nya Mojokerto " , sebagian riwayat menuturkan bahwa gelar itu yang pertama kali mengucapkan adalah Al-Arifu billah KH.  Ahyat Halimi,  pengasuh Pon-Pes Sabilul Muttaqien Mojokerto. Awal kisah adanya julukan itu adalah ketika suatu hari dimasa mudanya beliau diminta oleh Mbah Ahyat ( KH. Ahyat Halimi ) untuk membantu mengajar para santri di Pon-Pes Sabilul Muttaqien yang diasuhnya. Dengan halus dan tawaddhu'nya,  beliau menjawab,  " Nyuwun ngapunten Yai,  tuyo kulo namung sekedik, mangke kocak-kacik teng ndalan santri kulo uman nopo, Yai " ( Mohon maaf Kyai, air / ilmu saya cuman sedikit sekali,  nanti kalau saya bawa pulang pergi tiap hari tumpah sedikit demi sedikit dijalan,  santri saya dapat apa,  Kyai ). Mendapat jawaban demikian Kyai Ahyat Halimi maklum dan faham atas posisi Gus Al waktu itu yang semenjak didaulat menggantikan abahnya KH. Nawawi Romli mengasuh pondok yang dirintisnya, yang semula terkenal pondok kitab dan thoriqoh menjadi pondok Tahfidzhul Quran dan thoriqoh dengan nama PPTQ Al-Ittihad. Aktifitas beliau selalu mengutamakan santri,  sehingga demi istiqomah mengajar santri-santrinya beliau enggan apabila diminta untuk ceramah,  dan bahkan pak Ahmadi mantan bupati Mojokerto pernah menawarkan hadiah 100 juta lewat ajudannya untuk meminta kesediaan beliau tausiyah selama 30 menit saja,  tapi beliau tolak dengan halus. Beliau lebih memilih sebagai guru " mburi dampar " ketimbang " ngarep dampar ".

Dan ketika itu Gus Al ( panggilan KH. Al-Bazzi Nawawi waktu itu ) sudah dibaiat sebagai mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyah mengantikan abahnya,   Syaikh Nawawi Romli yang sakit keras menjelang kewafatannya. Gus Al dibaiat dalam usia 33 tahun sepulang beliau nyantri dari pondok Kedinding yang diasuh oleh Hadrotussyaikh Usman Al-Ishaqi,  kholifah thoriqoh Qodiriyah yang konon dalam manaqibnya setelah beliau dibaiat gurunya ( Kyai Romli Tamim Peterongan ) beliau diangkat menjadi kholifah thoriqoh Qodiriyah langsung oleh Syaikh Abdul Qodir Al-Jailany r.a. Sebagaimana ketika Haul Akbar Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Ra. tahun 1389 H, dalam sambutannya al-Habib Muhammad bin Ali bin Abdurrahman al-Habsyi menceritakan tentang perjalanan orang tuanya ke tanah suci dan bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani Ra. yang menyatakan pada al-Habib Ali: “Khalifah saya adalah Utsman Surabaya.”

Beliau ( Kyai Al Bazzi ) juga sempat nyantri selama 2 tahun di pesantren Panji Buduran Sidoarjo yang diasuh oleh seorang ulama besar ahli tafsir,  Al-arifubillah KH. Abbas Khozin. Kyai Abbas Khozin ini yang konon terkenal sebagian dari karomahnya adalah apabila beliau sedang mbalagh ( ngaji ) tafsir dihadapan santri-santrinya kereta api selalu berhenti disamping pondoknya,  hal ini dikarenakan banyaknya santri yang mengeluh karena dekatnya pondok dengan rel kereta api sehingga ketika pengajian berlangsung mereka sering terganggu dengan suara kereta yang lewat sampai banyak dari para santri yang ketinggalan murodi ( memaknai ) kitab yang disampaikan oleh Kyai Abbas.
Melihat hal itu,  Kyai Abbas berkata,  " mulai saiki saben pengajianku, sepur sing liwat kudu mandek " ( mulai sekarang setiap pengajian saya berlangsung,  kereta api yang lewat harus berhenti ). Dan begitulah,  setiap pengajian beliau berlangsung, kereta api yang lewat tiba-tiba berhenti,  tapi tidak ada penumpang yang turun oleh karena seolah kereta tetap berjalan sebagaimana biasa.

Ada beberapa kisah unik yang menunjukkan ketawaddhuan beliau kepada Alloh,  guru dan sesamanya, yang saya ketahui dari beberapa narasumber termasuk pengalaman saya sendiri. Diantaranya adalah :

* Beberapa teman saya yang senior pernah meminta pada beliau agar pondoknya dibuatkan plakat papan nama supaya semua orang tahu bahwa tempat belajar mereka adalah sebuah ponpes, hal ini dikarenakan posisi rumah beliau dan musholla ada jalan yang sebenarnya buat lalu lalang santri malah sering digunakan jalur kendaraan umum bagi mereka yang menginginkan jalan pintas ke Desa terdekat, dan banyaknya orang yang kebingungan mencari alamat ponpes beliau atau yang mau mendaftarkan putranya. " sing nekakno murid iku dudu plakat,  tapi Alloh " ( yang mendatangkan santri itu bukan papan nama pondok,  tapi Alloh ) kata beliau ketika itu. Pada akhirnya atas kesepakatan pengurus dibuatlah papan nama ponpes Al-Ittihad,  Tawangsari Trowulan-Mojokerto. Mengetahui itu beliau diam saja.

* Salah satu ketawaddhu'an beliau adalah pada suatu ketika semasa menjadi santri Mbah Kyai Adlan Aly Cukir, beliau tidak mau menambah hafalan Qur'annya sebelum Mbah Adlan memberi beliau hafalan tambahan,  padahal beliau dikenal cerdas,  tapi beliau selalu mengutamakan guru,  berapapun jumlah ayat yang Mbah Adlan baca untuk dihafal. Waktu itu akhirnya hafalan beliau selesai dalam waktu 6 bulan berikut tafsir jalalain,  menurut sebagian cerita ada yang mengatakan 3 bulan. Hingga pada suatu hari Mbah Adlan matur ( bilang ) pada abah beliau,  Mbah Kyai Nawawi bahwa putra beliau yang bernama Al-Bazzi telah selesai hafalannya. Singkat cerita,  akhirnya Kyai Nawawi mengundang masyayikh Quran di daerah Mojokerto guna membuktikan kebenaran bahwa putranya telah hafal dengan sempurna.  Maka tepat dibulan Romadhon beliau didaulat menjadi imam tarowih dengan catatan harus mengkhotamkan Al Quran selama 21 hari, dengan fadhol Alloh tak sekalipun beliau mengulang satu ayat karena kekeliruan baca. Sehingga selepas khotam,  Mbah Kyai Nawawi berdiri dihadapan para masyayikh dan jamaah lainnya seraya berkata,  " mulai sakniki kulo manut kalean putro kulo Al " ( mulai sekarang saya patuh pada putra saya Al-Bazzi ).

* Selepas dari Cukir dan Tebuireng beliau nyantri di pondok pesantren Siwalan Panji Buduran-Sidoarjo,  yang di asuh oleh Kyai Abbas Khozin selama 2 tahun. Beliau ketika itu dapat beberapa hari disana dipanggil oleh Kyai Abbas agar jadi pengajar saja,  jangan jadi santri.  Peristiwa unik yang melatar belakanginya adalah waktu itu saking banyaknya santri yang ngaji,  tempat beliau mendengarkan sambil ngesahi ( memberi makna ) kitab hanya didepan kamar beliau yang agak jauh dari masjid pondok,  dan dikarenakan kondisi waktu itu speaker belum ada sehingga tidak semua santri bisa memberi makna kitabnya dengan sempurna,  hanya yang dapat menjangkau suara Kyai Abbas saja yang dapat memaknai lengkap. Tapi teman-teman beliau heran oleh karena makna kitab beliau lengkap,  " sampean krungu ta kang ?" ( sampean kedengaran kah Kang ) tanya teman beliau. " Ngaji yo kudu krungu to kang , nek gak krungu gak ngaji jenenge " ( ngaji yang harus dengar kang,  kalau nggak dengar bukan ngaji namanya ) kurang lebih demikian jawab beliau ketika itu.

*  Beliau tidak mau lantai rumahnya dikeramik,  hal ini sebagai bentuk itba' kepada guru beliau Al Mursyid al Kamil Mukammil Hadrotus Syaikh Usman Al-Ishaqi,  kedinding-Surabaya. Syaikh Usman adalah ayahanda dari Al Mursyid al Kamil Syaikh Asrori Al-Ishaqi. Konon,  Syaikh Usman sepulang dari ibadah haji enggan masuk kedalam rumahnya ketika melihat lantai rumahnya dikeramik, dan beliau meminta agar lantai rumahnya dikembalikan seperti semula ( plesteran semen ), setelah dibongkar dan dikembalikan seperti semula,  barulah beliau berkenan masuk. Agaknya inilah yang menjadi ketawaddhuan Kyai Al kepada haliyah sang guru,  sehingga konon beliau pernah berpesan kepada keluarga agar jangan menganti ubin  dengan keramik lantai sebelum beliau meninggal. Tapi karena ada seorang tamu yang bernadzar jika usahanya sukses ia ingin mengkeramik lantai rumah Kyai Al. Beliau sempat menolak permintaan sang tamu,  tapi karena terus didesak dengan alasan nadzar tersebut,  akhirnya sang tamu di izinkan dengan syarat teras rumah saja yang dikeramik.

* Bisa dibilang saya adalah santri yang paling nakal ketika itu,  sampai Bu Nyai Dah pernah hendak mengusir saya dari pondok. Alasannya kuat,  karena mulai mendaftar santri baru hingga 1 tahunan saya belum pernah aktif setor ngaji sama sekali. Teguran pengurus pun kebal bagi saya, sampai bu Nyai turun tangan sendiri,  sebab Kyai Al punya cara unik untuk menegur santri-santri yang nakal,  yaitu dengan titip salam melalui santri yang aktif. Ini adalah bentuk ta'ziran halus beliau. Jika sampai 3 kali salam beliau tidak di indahkan maka beliau membiarkan santri tersebut.

*  Beliau termasuk salah satu Kyai yang tak mudah memberi ijazah doa maupun wirid sekalipun pada sesama kyai, apalagi murid beliau sendiri. Hingga suatu hari saya punya inisiatif cara agar mendapat ijazah langsung dari beliau,  dan ketika khoul Abah beliau Kyai Nawawi,  selesai pembacaan tahlil di makam abahnya saya coba beranikan diri menghadang beliau dan meminta kesedian beliau untuk saya foto dengan berbekal kamera Hp Nokia Supernova 7210 dengan resolusi 2 Mp ( waktu itu saya benar-2 konyol dan nekad ) sampai beliau berkata,  " gawe opo Ni foto,  nek mbok pajang tok gawe delok-delok an,  nek kangen aku fatehahono,  sampek..sampek " ( Buat apa Ni foto,  kalau cuman kamu pajang buat lihat-lihatan saja,  kalau kamu kangen saya bacakan fatihah, pasti sampai..). Konon beliau tidak mau kalau foto beliau dipajang diruang tamu bagi siapapun santri yang punya,  boleh dipajang asal dikamar. Ini menandakan bahwa beliau tidak ingin dikenal. Dengan kekonyolan saya ini akhirnya saya dapatkan ijazah khusus dari beliau.

* Berkaitan dengan syahadah sanad Quran, beliau sangat enggan memberi kepada santri yang khotam, bahkan yang lancar dan lanyah sekalipun. Hingga pada suatu saat ada senior saha yang meminta syahadah sanad tersebut,  dan beliau dengan arif berkata,  " opo awakmu wes rumongso pantes jenengmu dijejer bareng poro ulama-ulama iku " ( apa kamu sudah merasa pantas namamu disejajarkan dengan nama para ulama-ulama besar itu ). Ini adalah bentuk ketawaddhuan beliau terhadap nama nama ulama Ahlul Quran yang termaktub dalam sanad tersebut. Bahkan beliau sendiri enggan menulis nama beliau dibawah nama gurunya, Allamah Al Hafidz Al Mursyid Kyai Adlan Aly dari Cukir-Jombang,  sekalipun beliau sendiri dikenal sebagai Kyai yang Arifbillah dan Sufi nya kota Mojokerto.

Sidoarjo,  30 Juli 2015

Foto kenang-kenangan ku ketika jadi lurah pondok di PPTQ Al-Ittihad ( rambut agak gimbal ) pojok sendiri

4 komentar:

  1. mas dani apakah postingan ini bisa di update, di karnakan menurut gus diri (adik kh al bazi) ada informasi yang tidak benar dan harus di luruskan????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa, tolong diberi klarifikasi biar bisa saya benahi

      Hapus
  2. Mas dani jadi penulis sekaranG.....luar biasaa....

    BalasHapus